Produk Toko Pusaka

Makna Keris Jawa

Makna Keris Dalam Budaya Jawa.  Keris ialah sejenis senjata pendek kebangsaan Melayu yang digunakan sejak melebihi 600 tahun dahulu.  Keris berasal dari Kepulauan Jawa dan keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbahagi kepada tiga bahagian, yaitu mata, hulu dan sarung.  Kali ini, Tim Pusaka infomistik akan menyajikan sebuah artikel tetntang Makna Keris Dalam Budaya Jawa. Senjata ini memang unik di dunia Melayu dan boleh didapati di kawasan berpenduduk Melayu seperti Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan(Mindanao), dan Brunei. Keris digunakan untuk mempertahankan diri (misalnya sewaktu bersilat) dan sebagai alat kebesaran.
Keris berasal dari Kepulauan Jawa dan keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbahagi kepada tiga bahagian, yaitu mata, hulu dan sarung. Keris sering dikaitkan dengan kuasa mistik oleh orang Melayu pada zaman dahulu. Antara lain, terdapat kepercayaan bahawa keris mempunyai semangatnya yang tersendiri.
Ada pepatah jawa yang menyatakan  “Ajining rogo soko busono “ (terhormatnya seseorang tergantung karena busananya).  Mungkin pepatah itu lahir dari pandangan psikologis yang mendasarkan pada kerapian, kebersihan busana yang dipakai seseorang itu menunjukkan watak atau karakter yang ada dalam diri orang itu.  Karena itu, kami akan mengulan Makna Keris Dalam Budaya Jawa.
Di kalangan masyarakat Jawa pada umumnya untuk suatu perhelatan tertentu, misalnya pada upacara perkawinan, para kaum prianya harus mengenakan busana Jawi jangkep (busana Jawa lengkap). Dan kewajiban itu harus ditaati terutama oleh mempelai pria, yaitu harus menggunakan/memakai busana pengantin gaya Jawa yaitu berkain batik, baju pengantin, tutup kepala (kuluk) dan juga sebilah keris diselipkan di pinggang.
Mengapa harus keris?  Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa dilambangkan sebagai symbol "kejantanan." Dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka.
Pandangan ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat Jawa dulu, bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu dari menyatunya unsur lelaki dengan unsur perempuan.   Kepercayaan itu mulanya dari Hinduisme yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa. Lalu muncul pula kepercayaan tentang bapa angkasa dan ibu bumi/ pertiwi. Yang juga dekat dengan kepercayaan filsafat agraris di masyarakat Jawa terwujud dalam bentuk upacara kirab pusaka pada menjelang satu Sura dalam kalender Jawa dengan mengkirabkan pusaka unggulan Karaton yang terdiri dari senjata tajam: tombak pusaka, pisau besar (bendho).  Arak-arakan pengirab senjata pusaka berjalan sambil memusatkan pikiran, perasaan, memuji dan memohon kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, untuk beroleh perlindungan, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan batin.
Fungsi utama dari senjata tajam pusaka dulu adalah alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Namun kemudian fungsi dari senjata tajam seperti keris pusaka atau tombak pusaka itu berubah.
Di masa damai, kadang orang menggunakan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran saat temu pengantin. Maka keris pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris. Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagai kebanggaan pemakainya.
Pernah ada suatu pendapat yang berdasarkan pada tes ilmiah terhadap keris pusaka dan dinyatakan bahwa keris pusaka itu mengeluarkan energi/kekuatan yang tidak kasat mata (tak tampak dengan mata biasa).
Yang menarik hati adalah keris yang dipakai untuk kelengkapan busana pengantin pria khas Jawa. Keris itu dihiasi dengan untaian bunga mawar melati yang dikalungkan pada hulu batang keris. Ternyata itu bukan hanya sekedar hiasan, melainkan mengandung makna untuk mengingatkan orang agar jangan memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigang-adigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri seperti watak Harya Penangsang.
Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piyandel, penambah kepercayaan diri, bahkan keris pusaka atau tombak pusaka yang diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu.
Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat Jawa diartikan secara filosofi sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia. Maka lahirlah filosofi "manunggaling kawula – Gusti", bersatunya abdi dengan rajanya, bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Selain saling menghormati satu dengan yang lain masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar.  Semoga, artikel Makna Keris Dalam Budaya Jawa ini bermanfaat.

Keris Setan Kober

Pusaka Legendaris Keris Kyai Setan Kober.  Kyai Setan Kober adalah nama keris milik Adipati Jipang, Arya Penangsang. Keris ini dikenakan pada waktu ia perang tanding melawan Sutawijaya.  Pusaka Legendaris Keris Kyai Setan Kober merupakan sebilah keris pusaka luk 13 yang dibuat oleh Mpu Supo mandrangi pada zaman kerajaan Pajajaran (1150). Mpu Supo Mandrangi adalah Empu yang sangat mumpuni dan berpengatahuan sangat luas. Beliau juga mempunyai murid-murid dari bangsa jin dan siluman karena tempat tinggal sang mpu berada di tepi hutan yang sangat angker di daerah Cirebon. Karena kewaskitaan beliau, banyak dari golongan para jin yang selalu ingin menimba ilmu dan mengabdi padanya. Sang mpu merasa jengkel karena sangat sering mendengar rengekan para jin yang ingin berguru padanya.
Saat Mpu Supo Mandrangi tengah membuat sebilah keris Pusaka Legendaris Keris Kyai Setan Kober ini, saat sang mpu sedang mengheningkan cipta untuk memasukkan daya magis pada keris tersebut, konsentrasi Mpu Supo Mandrangi terganggu oleh rengekan para jin yang mengakibatkan keris pusaka yang sedang dibuatnya tersebut menjadi tidak sempurna.  Mpu Supo Mandrangi kemudian menamakan keris tersebut sebagai Keris Kyai Setan Kober, atau lengkapnya 'Bronggot Setan Kober’.
Keris tersebut kemudian dimiliki oleh Djafar Shodiq atau Sunan Kudus yang kemudian diberikan pada murid kesayangannya yang bernama Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Keris Pusaka Setan Kober sangat ampuh , tapi membawa hawa (perbawa) panas  sehingga yang membawa keris tersebut akan mudah marah . Sifat pemarah Arya Penangsang pun sebenarnya terbawa oleh hawa perbawa pusakan Kyai Setan Kober itu.
Konon, pada suatu saat, Arya Penangsang mengirim empat orang utusan untuk membunuh saingan beratnya, yaitu Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana yang menjadi bupati Pajang. Mereka dibekali keris pusaka Kyai Setan Kober. Ketika keempat orang suruhan Arya penangsang masuk ke kamar Hadiwijaya, Hadiwjaya terbangun dan melemparkan selimutnya ke arah ke empat orang suruhan Arya penangsang tersebut, dan terjadilah perkelahian di antara mereka.  Empat orang suruhan  Arya Penangsang tersebut akhirnya dapat dikalahkan oleh Hadiwijaya.  Setelah mereka mengaku, Hadiwijaya memaafkanya dan memberikan sejumlah uang untuk bekal kembali ke Jipang Panolan.
Hadiwijaya ganti mendatangi Arya Penangsang untuk mengembalikan keris Setan Kober. Keduanya lalu terlibat pertengkaran dan didamaikan oleh Sunan Kudus. Hadiwijaya kemudian pamit pulang, sedangkan Sunan Kudus memerintahkan Arya Penangsang untuk berpuasa 40 hari untuk mendinginkan amarahnya yang labil.
Dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera menumpas Arya Penangsang. Ia yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya menang.
Hadiwijaya segan memerangi Penangsang secara langsung karena merasa sebagai sesama anggota keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh bupati Jipang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram.
Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara. Hadiwijaya memberikan pasukan Pajang untuk membantu karena anak angkatnya, yaitu Sutawijaya (putra kandung Ki Ageng Pemanahan) ikut serta.
Ketika pasukan Pajang datang menyerang Jipang, Arya Penangsang sedang berpesta merayakan keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Meskipun sudah disabarkan Arya Mataram, Penangsang tetap berangkat ke medan perang.
Perang antara pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Sore. Perut Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian Penangsang tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip dipinggang.
Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atau ronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.
Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.
Sayembara menumpas Arya Penangsang tahun 1549 merupakan pengalaman perang pertama bagi Sutawijaya. Ia diajak ayahnya ikut serta dalam rombongan pasukan supaya Hadiwijaya merasa tidak tega dan menyertakan pasukan Pajang sebagai bala bantuan. Saat itu Sutawijaya masih berusia belasan tahun.
Akan tetapi sengaja disusun laporan palsu bahwa kematian Arya Penangsang akibat dikeroyok Ki Ageng Pamanahan dan Ki Panjawi, karena jika Sultan Hadiwijaya sampai mengetahui kisah yang sebenarnya (bahwa pembunuh Bupati Jipang Panolan adalah anak angkatnya sendiri), dikhawatirkan ia akan lupa memberikan hadiah.
Sampai sekarang keberadaan keris ini tak diketahui, seperti halnya Keris Mpu Gandring yang misterius. Padahal keris-keris maupun pusaka-pusaka legendaris pada masa kuno diwarisi oleh Kraton Surakarta maupun Kraton Yogjakarta tapi untuk keris Setan Kober ini nggak ada pernah diceritakan setelah kematian Arya Penangsang. Demikian juga "dapur" atau model Keris Setan Kober juga tak di tiru oleh para Empu-Empu keris. Ada kepercayaan bahwa keris yang telah dipakai untuk membunuh orang-orang penting pada masa lalu sengaja dimusnakan karena kalau tak dimusnakan akan membawa sial sebab diaggap telah "haus darah".
Demikianlah sekilas tentang Pusaka Legendaris Keris Kyai Setan Kober.  Semoga bermanfaat.

Mandau Senjata Sakti Suku Dayak

Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak. Mandau adalah salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat atau memiliki kesaiktian.Selain itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian besar kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan diikatkan pada pinggang mereka. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak. Suku Dayak adalah suku yang gemar sekali berpetualang, sehingga untuk memberi kenyamanan dalam perjalanannya.  Putra dayak akan melengkapi dirinya dengan senjata. Salah satu senjata yang pasti dibawa dalam sebuah perantauan adalah mandau. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.

Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Kalimantan merupakan “daerah asal” suku Dayak. Di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.  Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol kehormatan dan jatidiri.  Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.

Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak  ini dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kesaktian Mandau ini tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga diperoleh dari pengayauan (pemenggalan kepala lawan-red). Semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, mandau itu semakin sakti. Sebagian rambut kepala yang berhasil dikayau biasanya digunakan untuk menghias gagang mandaunya. Mereka percaya bahwa roh orang yang mati karena dikayau akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti.

Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang  dan berujung runcing.  Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Menurut cerita masyarakat dayak, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.

Sedangkan Gagang atau hulu mandau terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.

Sementara Sarung mandau atau yang biasa disebut kumpang biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.

Jika dicermati secara seksama, di dalam pembuatan mandau, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi kehidupan masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.

Tombak Kyai Plered

Selepas runtuhnya kedhaton Majapahit yang ditandai dengan sengakalan Sirna Ilang Kertaning Bhumi, maka putra-putri Brawijaya V juga menyebar ke berbagai daerah. Satu diantara pangeran tersebut bernama  Raden Bondan Kejawen. Dialah ayah dari Ki Ageng Getas Pendowo yang menurunkan Ki Ageng Selo. Nama terakhir ini terkenal sebagai tokoh legenda yang konon dapat menaklukkan, bahkan menangkap petir dalam sebuah pertempuran yang sangat dahsyat hingga meninggalkan api abadi di daerah Mrapen. Dirinyalah pula yang menciptakan tombak Kyai Plered, sebuah pusaka yang kemudian secara turun-temurun menjadi piandel bagi dinasti Mentawisan.

Tombak sakti inilah yang kelak diturunkan kepada Ki Ageng Enis dan sampai kepada Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutawijaya. Di masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, terjadilah upaya kraman, perebutan hak waris atas tahta Demak, yang dilakukan oleh Arya Jipang atau dikenal pula sebagai Arya Penangsang.  Dalam suatu peperangan yang sangat sengit akhirnya tombak Kyai Plered berhasil disarangkan ke perut Arya Jipang hingga mbrodhol, terurai ususnya. Dan pemberontakan pun berhasil dipadamkan.

Kokon, saat Arya Penangsang yang telah menguasai Demak semakin bengis. Ia berniat membinasakan Sultan Hadiwijaya di Pajang. Untuk itu, ia mengutus empat orang anak buahnya ke Pajang. Setibanya di sana, keempat utusan tersebut justru tertangkap oleh Sultan Hadiwijaya. Namun, mereka tidak dihukum melainkan diberi hadiah dan disuruh kembali ke Jipang.

Kepulangan keempat utusan yang membawa hadiah tersebut membuat Arya Penangsang sangat marah. Ia pun memutuskan untuk menghabisi nyawa Hadiwijaya dengan tangannya sendiri.

Sultan Hadiwijaya yang mengetahui kabar tersebut menganggap Arya Penangsang telah memberontak terhadap Pajang.  Untuk menghadapi pemberontak itu, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara. Barang siapa mampu membinasakan Arya Penangsang, maka ia akan diberi hadiah tanah di daerah Pati dan hutan Mataram.

Atas desakan Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan dan adik angkatnya, Ki Penjawi, yang merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijaya, pun ikut dalam sayembara tersebut. Ki Juru Martani menyarankan kepada Ki Ageng Pamanahan untuk mengusahakan agar mereka dapat membawa tombak pusaka Kyai Plered milik Sultan Hadiwijaya ke medan perang karena hanya tombak itulah yang mampu melukai Arya Penangsang.

Atas saran Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan memohon kepada Sultan Hadiwijaya untuk membawa serta anak angkat sang Sultan yang bernama Danang Sutawijaya ke medan perang. Dengan begitu, Sultan Hadiwijaya akan meminjamkan keris pusakanya kepada putra angkatnya itu. Sultan Hadiwijaya pun menyetujuinya.

Pada hari yang telah ditentukan, Ki Ageng Pamanahan bersama rombongannya berangkat menuju daerah Jipang. Setibanya di tepi sungai Bengawan Solo yang merupakan tapal batas wilayah Sela dan Jipang, Sutawijaya berdiri di samping seekor kuda betina putih yang akan ditungganginya untuk menghadapi Arya Penangsang. Di tangannya tergenggam tombak pusaka Kyai Plered yang ujungnya ditutupi kain putih dan diberi rangkaian bunga melati.

Di tepi sungai, tampak pekatik (pemelihara kuda) sedang mencari rumput untuk kuda milik Arya Penangsang. Ki Juru Martani menangkap pekatik itu lalu melukai telinganya dan mengalunginya surat tantangan. Setelah itu, si pekatik disuruh segera kembali ke Jipang untuk menghadap Arya Penangsang. Setibanya di Jipang, pekatik itu segera menyerahkan surat itu kepada Patih Matahun untuk dibaca di hadapan Arya Penangsang.

Mengetahui isi surat itu, Arya Penangsang marah, ia segera mengenakan pakaian perang dan keris pusakanya, Kyai Setan Kober dan menunggang kuda andalannya, Kyai Gagak Rimang.

Setibanya di tepi sungai, Arya Penangsang melihat Sutawijaya sedang menunggang kuda putih di seberang sungai, yang sudah siap dengan tombak pusakanya, Tombak Kyai Plered.

Melihat kedatangan Arya Penangsang, Sutawijaya berteriak “Hai, Penangsang! Lawanlah aku kalau kamu berani!”

Dada Arya Panangsang bagai dibakar api mendengar suara anak kecil yang menantangnya itu. Segera ia menarik tali kekang Kyai Gagak Rimang menyeberang sungai untuk menghampiri Sutawijaya. Senang hati Sutawijaya melihat Arya Penangsang mendahuluinya mencebur ke sungai. Konon, jika terjadi peperangan Sungai Bengawan Solo,  yang lebih dahulu turun ke sungai pasti akan kalah.

Sutawijaya segera menghela kuda putihnya turun ke sungai. Begitu ia berhadapan dengan Arya Penangsang, Sutawijaya memutar arah kudanya sehingga membelakangi kuda Arya Penangsang. Gagak Rimang pun tiba-tiba bertingkah aneh dan menjadi liar karena kuda yang ditunggangi Sutawijaya ternyata kuda betina. Kemaluan kuda putih terlihat dengan jelas karena ekornya sengaja diikat ke atas.

Melihat Arya Penangsang sibuk mengendalikan kudanya, Sutawijaya menusukkan tombak pusaka Kyai Plered ke perut Arya Penangsang hingga robek hingga sebagian ususnya terburai. Meski demikian, Arya Penangsang yang sakti itu masih hidup. Ia berusaha meraih ususnya yang terburai itu lalu dikalungkannya pada warangka keris pusakanya, Kyai Setan Kober. Setelah itu, ia mengejar Sutawijaya dan berhasil meraih tubuh Sutawijaya dan membantingnya hingga tak berdaya. Arya Penangsang lalu menginjak dada Sutawijaya.

Melihat putranya dalam keadaan bahaya, Ki Ageng Pamanahan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berpura-pura memihak kepada Arya Penangsang.“Hai, Arya Penangsang! Habisi saja nyawa putra Sultan Hadiwijaya itu!” teriak Ki Ageng Pamanahan.

Dengan geram, ia segera mencabut keris Kyai Brongot Setan Kober dari pinggangnya. Namun, ia lupa jika sebagian ususnya tersampir di warangka keris pusaka itu. Begitu ia mengangkat keris itu, seketika itu pula ususnya terputus. Tak ayal lagi, tubuh Adipati Jipang itu tersungkur ke tanah dan tewas seketika.

Keris Kyai Sengkelat Mpu Supa Mandagri

Kyai Sengkelat adalah nama sebuah keris pusaka luk tiga belas karya Mpu Supa Mandagri  yang dibuat pada jaman Majapahit (1466–1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V). Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika besi itu ditanyakan berasal dari mana, dijawab lah bahwa besi itu milik Nabi Muhammad SAW. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.
Namun, Mpu Supa merasa sayang jika besi tosan aji tersebut dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai dibuat, maka keris tersebut diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Sunan Ampel menghendaki besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam, sedang  keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu. Maka oleh Sunan Ampel menyarankan  agar Keris Kyai Sengkelat tersebut diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V melihat keris Kyai Sengkelat tersebut, sang Prabu sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan setelah diterimanya, keris tersebut menjadi salah satu Pusaka Kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru kerajaan Majapahit yang bernama Kyai Sengkelat itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan kersi tersbut berhasil dicuri.
Raja Majapahit kemudian memberi tugas kepada Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, Mpu Supa menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.
Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.
Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang Mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia.
Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang alias Mpu Supa dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.
Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi se orang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri, serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kanjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.
Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.

Tombak Korowelang

Sejumlah kalangan meyakini bahwa keris Kyai Condong Campur  mampu mempersatukan setiap elemen bangsa dan negara. Banyak versi telah mengungkap perihal keris Kyai Condong Campur. Pusaka Majapahit ini diartikan sebagai perlambang keinginan akan sebuah persatuan. Kebenaran tentang pernah adanya perang Demak-Majapahit, hingga kini masih menjadi pro-kontra. Sementara dalam sejumlah babad seputar zaman itu, muncul kisah-kisah keris sakti. Antara lain, keris Kyai Condong Campur, keris Kyai Sengkelat, keris Sabuk Inten dan keris Kyai Crubuk. Ketiga keris ini sangat kawentar dalam khasanah budaya-tosan aji Nusantara, khususnya di Jawa.

Seperti diketahui, zaman Majapahit terakhir, abad 14, peradaban Hindhu di tanah Jawa mulai bergeser ke peradaban baru, Islam. Kadipaten Demak Bintoro, ketika itu berkembang pesat dan akhirnya menjadi kerajaan Islam terbesar di Jawa Tengah.

Berdirinya Kerajan Demak Bintoro ditandai candra sengakala Geni Mati Siniraman Janma, yang berarti tahun 1403 Saka atau 1478 Masehi (DR Purwadi, MHum, 34: 2005). Meski peperangan antara Demak (Islam) melawan Majapahit (Hindhu) termaktub dalam banyak versi babad dan kisah tutur, namun secara historis banyak ahli sejarah menolak kebenarannya. Sebab, tak ditemukan catatan sejarah atau prasasti yang membuktikan hal itu. Ini menunjukkan, betapa silang sengkarutnya situasi zaman itu, sehingga runtuhnya Majapahit tak bisa dipastikan penyebabnya.

Candra sengakala berbunyi: Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun 1400 Saka, bahkan dinilai bukan berarti runtuhnya Majapahit, melainkan prasasti gugurnya Brawijaya V dalam pemberontakan Girindrawardhana. Ada pun peralihan  pernatan  zaman dari Majapahit ke Demak Bintoro, menurut catatan sejarah China, baru terjadi pada saat kepemimpinan Adipati Unus (1518-1521 Masehi).

Kekalahan keris Kyai Condong Campur yang dikisahkan dalam sejumlah babad, seakan justru mematahkan mitos tentang keris tersebut yang bisa menyatukan bangsa. Apa lagi, keris Kyai Condong Campur dimitoskan sebagai penebar wabah penyakit, yang ketika itu juga nyaris menewaskan Dewi Dwarawati, permaisuri Brawijaya V. Beruntung sekali ketika itu, keris Kyai Sengkelat milik Mpu Supa Mandrangi mampu mengalahkan keris Kyai Condong Campur dan melenyapkan pagebluk yang melanda seantero Majapahit.

Lantas, pusaka apakah sebenarnya yang bisa memberikan kekuatan bagi pemiliknya, sehingga mampu menyatukan berbagai elemen bangsa dan negara?

Tombak Korowelang tercatat dalam kisah pewayangan yang menyebutnya sebagai kepunyaan Pandu Dewanata. Tombak itu juga pernah dimiliki oleh Brawijaya V, dan pernah pula dimiliki oleh mantan presiden pertama RI, Ir Soekarno. Tapi sejak Bung Karno lengser, tombak itu lenyap. Pusaka Majapahit itulah yang bisa menyatukan bangsa ini dan mengakhiri setiap ontran-ontran serta bencana alam yang selama ini melanda.

Dengan mengkirabkan Tombak Korowelang ke seluruh penjuru Nusantara, menurut Kyai Sunarto, berbagai bencana alam seperti banjir dan angin puting beliung bisa diredam. Pemilik Tombak Korowelang akan membawa bangsa ini menuju tata titi tentrem, kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi

Daya kasekten Tombak Korowelang ini adalah mampu menentramkan dan meredam setiap gejolak, baik yang bersumber dari manusia atau alam. Pusaka Tombak Korowelang  juga dikenal di Ponorogo, Jawa Timur. Tombak itu dikirab setiap bulan Suro dalam ritual Grebeg Suro di kota Warok itu.

Korowelang juga merupakan nama keris pusaka Pangeran Samber Nyawa, yang masih dikirabkan setiap bulan Suro di Wonogiri. Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati juga disebut-sebut pernah memiliki pusaka Jala Korowelang.

Keris Kyai Condong Campur Asli

Perkembangan zaman cenderung menuju sifat individualistik. Modernitas zaman tak sekedar memberikan kemajuan atau berbagai kemudahan, tapi juga melunturkan nilai-nilai budaya bangsa sendiri sebagai dampak negatifnya. Perbedaan atau ketidakadilan sosial politik, juga merupakan faktor lain dari renggangnya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Keris Kyai Condong Campur, nama sebuah keris yang sangat terkenal di jagad tosan aji. Sejumlah orang meyakini bahwa  keris Kyai Condong Campur memiliki kekuatan  yang mampu mempersatukan setiap elemen bangsa dan negara.

Seringkali perpecahan diawali dari hal-hal kecil yang tak disadari atau dibiarkan karena dianggap remeh. Misalnya, menurunnya rasa kepedulian terhadap sesama dan rasa setia-kawan serta anarkisme dalam menghadapi perbedaan. Anarkisme di kalangan supporter sepak bola menjadi contoh konkrit. Bila ini terus terjadi, perpecahan menjadi bom waktu. Sejarah silam bangsa ini telah mengajarkan hal itu, sebagaimana tersirat dalam mitos keris Kyai Condong Campur.

Banyak versi telah mengungkap perihal keris Kyai Condong Campur. Pusaka Majapahit ini diartikan sebagai perlambang keinginan akan sebuah persatuan. Seperti diketahui, zaman Majapahit terakhir, abad 14, peradaban Hindhu di tanah Jawa mulai bergeser ke peradaban baru, Islam. Kadipaten Demak Bintoro, ketika itu berkembang pesat dan akhirnya menjadi kerajaan Islam terbesar di Jawa Tengah.

Berdirinya Kerajan Demak Bintoro ditandai candra sengakala Geni Mati Siniraman Janma, yang berarti tahun 1403 Saka atau 1478 Masehi (DR Purwadi, MHum, 34: 2005). Meski peperangan antara Demak (Islam) melawan Majapahit (Hindhu) termaktub dalam banyak versi babad dan kisah tutur, namun secara historis banyak ahli sejarah menolak kebenarannya. Sebab, tak ditemukan catatan sejarah atau prasasti yang membuktikan hal itu. Ini menunjukkan, betapa silang sengkarutnya situasi zaman itu, sehingga runtuhnya Majapahit tak bisa dipastikan penyebabnya.

Candra sengakala berbunyi: Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun 1400 Saka, bahkan dinilai bukan berarti runtuhnya Majapahit, melainkan prasasti gugurnya Brawijaya V dalam pemberontakan Girindrawardhana. Ada pun peralihan  pernatan  zaman dari Majapahit ke Demak Bintoro, menurut catatan sejarah China, baru terjadi pada saat kepemimpinan Adipati Unus (1518-1521 Masehi).

Kebenaran tentang pernah adanya perang Demak-Majapahit, hingga kini masih menjadi pro-kontra. Sementara dalam sejumlah babad seputar zaman itu, muncul kisah-kisah keris sakti. Antara lain, keris Kyai Condong Campur, keris Kyai Sengkelat, keris Sabuk Inten dan keris Kyai Crubuk. Ketiga keris ini sangat kawentar dalam khasanah budaya-tosan aji Nusantara, khususnya di Jawa.

Tak hanya daya kesaktian keris-keris itu yang melegenda, namun juga makna filosofi di baliknya. Makna atau nilai filosofi ini dipandang bukan sekedar hasil kajian budaya, namun juga sebagai nilai spiritual keris yang semakin mengukuhkan keampuhan tuah atau berkahnya. Tak pelak, keris-keris itu banyak diburu oleh para calon pemimpin bangsa. Terutama, keris Kyai Condong Campur.

Keris ampuh itu muncul ketika Majapahit mulai didera konflik yang bersumber dari adanya perbedaan. Saat itu, dua golongan yang memiliki perbedaan pandangan adalah golongan pejabat, pedagang atau pemilik modal. Golongan kedua adalah masyarakat bawah yang kecewa karena kondisi, seperti keterpurukan nasib dan tekanan hidup. Keadaan ini membuat perbedaan kasta yang bersumber dari ajaran Hindhu, berubah menjadi sesuatu yang juga ditentang.

Dalam keadaan seperti itu, muncullah keris berdapur Sabuk Inten, yang dipandang mewakili golongan para pejabat atau pedagang. Sabuk berarti ikat pinggang, dan Inten berarti intan atau permata. Sedangkan keris berdapur Sengkelat dipandang mewakili golongan masyarakat bawah yang kecewa terhadap situasi. Sengkelat berasal dari kata sengkel atine atau dongkol-kecewa berat.

Di antara kedua golongan itu, muncul sebuah keinginan untuk menyatukan keduanya, yang terwakili oleh keris Kyai Condong Campur. Condong artinya miring, mengarah pada suatu titik yang juga berarti keberpihakan atau keinginan. Campur berarti menjadi satu atau berpadu. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan atau golongan tertentu. Konon, keris Kyai Condong Campur ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang Mpu. Keris ini menjadi pusaka ampuh Majapahit. Tapi anehnya, keris ini disebut berwatak jahat.

Dalam khasanah tosan aji, terdapat kisah yang menceritakan pertarungan antara keris-keris itu. Sabuk Inten yang merasa terancam eksistensinya, memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian itu, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi, ikut memerangi Condong Campur dan akhirnya menang. Keris Kyai Condong Campur yang kalah perang, melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat ontran-ontran.

Pertarungan keris-keris sakti itu dikisahkan dalam Babad Tanah Jawa. Dalam babad itu, keris Kyai Condong Campur dikatakan sebagai keris jahat penebar penyakit di Majapahit. Karena itu, lintang kemukus menjadi mitos tersendiri, yang kemunculannya dipercaya sebagai pertanda datangnya pagebluk atau wabah penyakit.

Kekalahan keris Kyai Condong Campur yang dikisahkan dalam sejumlah babad, seakan justru mematahkan mitos tentang keris tersebut yang bisa menyatukan bangsa. Apa lagi, keris Kyai Condong Campur dimitoskan sebagai penebar wabah penyakit, yang ketika itu juga nyaris menewaskan Dewi Dwarawati, permaisuri Brawijaya V. Beruntung sekali ketika itu, keris Kyai Sengkelat milik Mpu Supa Mandrangi mampu mengalahkan keris Kyai Condong Campur dan melenyapkan pagebluk yang melanda seantero Majapahit. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Keris Sunan Kalijaga

Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga. Terkait keris pusaka dan sakti di Indonesia, dalam khanazah sejarah dan budaya nusantara, kebanyakan keris sakti berasal dari pulau Jawa, terutama di era kejayaan Kerajaan Majapahit. Banyak cerita, kisah dan juga mitos seputar keris. Konon, keris yang memiliki kesaktian tidak sembarangan bisa dimiliki, harus memiliki kecocokan atau berjodoh dengan yang memegangnya. Banyak yang meyakini juga keris yang sakti bisa berdiri sendiri jika diminta oleh pemegangnya, dan banyak lagi cerita lainnya tentang kesaktian keris ini. Kali ini, infomistik akan membawa anda ke wilayah kajian keris pada konteks sejarah. Terkait sejarah ini, ada bebeberapa keris yang terkenal dan paling populer di Indonesia, salah satunya adalah Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga. Keris Kyai Carubuk ini adalah mahakarya ketiga dari Mpu Supa Madrangi selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga merupakan peninggalan Mahapahit. Dalam satu legenda dikisahkan, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta tolong kepada Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebuah keris coten-sembelih (untuk menyembelih kambing). Sunan Kaljaga memberikan besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa sebagai bahan pembuatan keris kepada Mpu Supa Mandrangi. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Namun setelah Mpu Supa menerima besi tersebut dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Ia berkata “besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris”. Lalu Sunan Kalijaga berkata “besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung”. Karena ampuhnya perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi yang sebesar biji asam jawa tersebut menjelma menjadi sebesar gunung. Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Sang Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut. Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan oleh Mpu Supa Mandrangi. Tidak lama kemudian, jadilah sebilah keris, kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Begitu melihat bentuk kerisnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi kaget karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Semula ia bermaksud meminta dibuatkan keris untuk menyembelih kambing, ternyata yang dihasilkan adalah keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu. Kemudian Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan besi sebesar biji kemiri kepada Mpu Supa Mandrangi dan meminta Mpu Supa Mandrangi untuk membuatkannya sebilah keris lagi. Lalu Empu Supa mengerjakannya, dan setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kaljaga. Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan, Kanjeng Sunan Kalijaga sangat senang hatinya dan menamai keris tersebut dengan nama “Keris Kyai Carubuk”. Keris Kyai Carubuk ini kemudian menjadi senjata pusaka Sultan hadiwijaya, dan pernah digunakan bahkan sanggup mengalahkan keris Kyai Setan Kober milik arya penangsang yang ketika itu digunakan oleh pesuruh Arya Penangsang untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada Sultan Hadiwijaya.  Karena utusan Arya Penangsang dapat dikalahkan, keris Kyai Setan Kober diambil oleh Sultan Hadiwjaya, lalu dikembalikan sendiri oleh Sultan Hadiwjaya kepada Arya Penangsang yang membuat Arya Penangsang tersinggung dan marah.  Karena Arya Penangsang tersinggung dan marah, maka timbul kerbutan antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya, dan keributan tersebut dapat dihentikan oleh Kanjeng Sunan Kudus.

Mustika Junjung Drajat


MUSTIKA JUNJUNG DRAJAT
Mustika Junjung Drajat merupakan mustika yang sangat Ampuh, Mustika ini memiliki khodam Sesosok Pria Tua memakai Pakaian serba Putih yang bernama Kyai Drajat , Mustika ini di percaya mempunyai khasiat untuk : Menaikkan / Menjunjung Derajat Seseorang untuk Memenangkan / Terpilihnya seseorang dalam mencalonkan diri menjadi anggota Legislatif / mencalonkan diri di bidang Pemerintahan , Mampu mengajak , meyakinkan ,dan mengayomi massa sebanyak mungkin , Semua Perkataan / Pemikiran dan Keinginan mampu di terima dan di mengerti oleh Masyarakat banyak , Menjadi perhatian dan Sorotan Orang Banyak / Publik. Menjadi lebih berwibawa, Disegani dan dihormati orang banyak.

Pusat Keris Mustika Bertuah Pelet Pelarisan Supranatural

TokoPusaka.Com merupakan Pusat Gallery Keris Pusaka, Mustika Bertuah dan Paguyuban Konsultasi berbagai kasus Spiritual. Tujuan TokoPusaka.Com Menjaga Pusaka Warisan Budaya Nusantara dan Menjalin Saudara pada sesama serta membantu masalah spiritual yang terjadi di kehidupan sekitar kita. Pendiri dan Pemilik TokoPusaka.Com sudah terkenal di Dunia Spiritual Jawa Khususnya dan Indonesia pada umumnya, tidak lain orang yang akrab dipanggil Adi Permadi yang membuka Pelayanan dibidang ; 

Konsultasi Keris Pusaka
Khodam Keris Pusaka
Tuah / Yoni Keris Pusaka
Pamor Keris Pusaka
Dapur dan Nama Keris Pusaka
Tangguh / Umur Keris Pusaka
Efek Samping Keris Pusaka Tertentu
Pembuatan Keris Pusaka
Warangan Keris Pusaka
Jamasan Keris Pusaka
Mencuci Keris Pusaka
Aksesori Keris Pusaka
Warangka / Sarung Keris Pusaka
Perawatan Keris Pusaka
dan lain-lain.

 Konsultasi Mustika Bertuah
Perawatan Mustika
Keaslian Batu Mustika
Khodam Mustika
Khasiat Mustika
Mustika Bertuah
Mustika isi dan kosong
Tingkat Energi Mustika
Mustika Alam
Mustika Tarikan Gaib
Mustika Asmak
Mustika Ritual
Mendeteksi Khodam
Merasakan Energi Mustika
Menerawang Khodam Mustika
dan lain-lain.

 Konsultasi Masalah Kasus
Cinta ditolak, Sulit Jodoh
Pelet Pengasihan
Aji Pengeretan
Mengunci Pasangan
Selingkuhan, Idaman Lain
Keharmonisan Rumah Tangga
Putus Cinta, Perceraian
Mengembalikan Pasangan Dalam Pelukan
Pelarisan Sukses Usaha
Meningkatkan Karir dan Bisnis
Mudah Menjalin Relasi
Kenaikan Jabatan dan Tahta
Mengembalikan Pelanggan
Menarik Pelanggan
Buka Aura Kecantikan dan Ketampanan
Pasang Susuk Tingkat Tinggi Tanpa Efek Samping
Ruwatan Sukerta, Tradisi Membuang Nasib Sial
Membuka Mata Batin
Membuka Indera Ke Enam
Pengisian Ilmu gaib
Pengisian Pusaka dan Mustika
Pengisian Tenaga Dalam
Mendatangkan Khodam
Pengobatan Kerasukan Jin
Puter Giling
Gendam dan Hipnotis
Pagar Gaib Badan
Pagar Gaib Kantor, Rumah dan Tempat Usaha
Pagar Gaib Anti Pencuri
Tolak Bala Santet, Tenung, Pelet, Guna-guna
dan lain-lain.

Dilayani Langung Oleh
Mbah PERMADI
Pendiri dan Pemilik Toko Pusaka
Phone : 0878 35 456780.
BlackBerry : 210 9F9F9

Mustika Macan Tutul


Mustika Macan Tutul
Mustika ini diperoleh di Lereng Gunung Muria , Merupakan pusaka hasil tarikan gaib . Pusaka yang berkhodam kan Sesosok Macan Tutul ini dipercaya memiliki khasiat sebagai : Memiliki kewibaaan yang tinggi , Menundukkan dan meluluhkan hati seseorang / Pengasihan , Pelet , Pemikat jitu , Mudah mencari pasangan / Ilmu Renteng Jodoh , Menambah Rejeki sebagai Ilmu Pesugihan / Ilmu Pengeretan, Menghalau serangan musuh,Penetralisir aura negativ.

Mustika Rajah Bumi



100% NATURAL
Nama : Batu  Mustika RAJAH BUMI 
Asal usul : Tarikan Alam
Wujud Khodam : Sesosok Orang Tua
Ukuran Batu :  23x15 milimeter
Khasiat : Pemagaran Diri , Pemagaran gaib, Tolak Bala , Tolak Pelet, Melancarkan Usaha & Bisnis.

Mahar : Rp. 1.500.000,-
Mahar Saudara : Rp. 500.000,- (bagi yang mau jadi 

keluarga besar kami cukup membayar mahar saudara) 

Mustika Kebal



100% NATURAL
                                ++ Batu Mustika Kebal ++
Batu mustika ini diperoleh dari hasil Tarikan di Danau Rawa Pening
                         Wujud Khodam  Kyai Among Roso
                           Ukuran Batu  25x18 milimeter
Khasiat Sangat Ampuh untuk Pelindung dari segala bentuk bencana yang bersifat gaib /Pagar Gaib, Tolak santet , Tolak pelet / Tolak Pengasihan. Serta masih banyak manfaat yang bisa di peroleh dari mustika tersebut.



Mustika Daya Biru Asli - Dipinang

Toko-pusaka- Mustika-daya-biru-termahar

KETERANGAN :
Nama : Batu Mustika Daya Biru
Khasiat Di percaya Untuk :   pemikat, daya tarik, membuka aura diri dan pengasihan.
Keterangan Lain-lain : Batu Mustika Daya Biru di kenal Karena Khasiatnya

                                        

Mustika Macan Putih Prabu Siliwangi - Dipinang

Toko-pusaka-Mustika-macan-putih-prabu-siliwangi-termahar

MUSTIKIA MACAN PUTIH PRABU SILIWANGI
Mustika ini di dapat di daerah Jawa Barat , Batu ini Mempunyai Khodam yang sangat Ganas namun sakti mandraguna , Wujud khodam adalah Sesosok Harimau Putih Besar / orang jawa bilang Macan Putih. Harimau ini adalah Hewan Peliharaan Raja Padjajaran Yang bernama Prabu Siliwangi. Di dalam batu tersebut tersimpan Kekuatan yang sangat Maha dasyat , Kasiat batu tersebut adalah untuk : Memiliki Kewibawaandan Kharisma tinggi  yang benar-benar seperti layaknya Raja , Menentramkan Hati seseorang yang sedang mengalami masalah/problem , Menguatkan batin seseorang untuk bertindak tegas dalam memecahkan / mengambil keputusan, Menambah Kemakmuran baik untuk diri sendiri atau orang lain/orang banyak , Memberikan Rejeki yang berlimpah , Memberikan Keselamatan baik untuk diri sendiri atau Orang di sekitarnya , Menolak segala macam marabahaya / Sengkolo, Sebagai Perisai dari ilmu hitam semacam Gendam , teluh,tenung,santet.

Keris Kyai Naga Krawang




                       ### Keris Kyai Naga Krawang ###
 Keris ini Diperoleh dari hasil Bertapa 7 hari 7 malam di Gunung Kawi. 

       Keris ini memiliki keampuhan yang sangal luar biasa diantaranya : 
 Meningkatkan Wibawa & karisma seseorang (sangat cocok untuk  pejabat / pemimpin )
 Mengusir khodam / makhluk gaib yang bersifat jahat

 Meningkatkan Mata batin seseorang menjadi lebih peka. 

 Meningkatkan Tenaga Dalam seseorang.

 Serta masih banyak manfaat lainnya yang bisa di rasakan.

                                             
                                                    


Keris Kyai Sengkelat Mataram - Dipinang

Toko-pusaka-Keris-sengkelat-mataram-termahar







Pusaka Keris Kyai Sengkelat
Milik Kerajaan MATARAM
Wujud Khodam : Kyai SENGKELAT

 Khasiat :Membantu mempermudah Segala macam urusan Usaha & Karier atau yang disebut Penglarisan.

          Memperbanyak Rezeki.

          Mudah bergaul , Disegani  Teman atau rekan kerja & Banyak Orang.

Berikut kisah keris Kyai Sengkelat ketika diamanatkan pada dua orang yang berbeda, yakni pada Empu Supa dan Raden Patah.

Menurut Sunan Kalijaga, siapa saja yang membawa Kyai Sengkelat selama satu tahun, maka dia akan menjadi Raja Tanah Jawa.

Empu Supa adalah Putra Tumenggung Majapahit yang bernama Supadriya. Ia adalah murid Suna Kalijaga, masuk Islam dan dikawinkan dengan adik Sunan Kalijaga yang bernama Dewi Rasa Wulan. Keris Kyai Sengkelat sebenarnya diberikan Sunan Kalijaga kepada Empu Supa, namun Empu Supa tidak kuat menyimpnya sehingga keris itu hilang, dicuri oleh orang sakti dari kerajaan Blambangan.

Untuk mendapatkan kembali keris pusaka itu, Empu Supa harus mengembara ke Blambangan dengan menyamar sebagai Kyai Pitrang. Akhirnya Empu Supa dapat membawa kembali keris Sengkelat yang asli. Sedang keris Kyai Sengkelat yang palsu dibawa oleh Raja Blambangan.

Karena tak sanggup menyimpan keris Kyai Sengkelat yang asli maka Empu Supa menyerahkan keris itu kembali kepada Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memberikan keris itu kepada Raden Patah. Dan dalam waktu setahun akhirnya Raden Patah benar-benar menjadi Raja yang menguasai Tanah Jawa.

Ya, pemilik keris yang cocok dengan keris yang diamanatkan kepadanya kerap membawa sesuatu yang bernilai lebih, namun keadaan sebaliknya bisa terjadi bagi pemegang keris yang tidak cocok. Ini pengalaman pribada dari orang-orang yang terdekat saya, setelah menemukan keris dan konon menurut orang yang mengetahui tentang perkerisan, keris itu cocok bila pemegag kerisnya berjualan, maka setelah berjualan, jualanyapun laris manis.

Lain ceritanya bila pemilik keris itu tidak cocok dengan keris yang diamanatkan kepadanya. Tanpa perawatan yang pemiliknya maka rumah pemilik keris terbakar yang diiringi oleh hilangnya keris tersebut.                            

       
           

Keris Pandawa Lare Ganja Iras





100% NATURAL
                  Pusaka Keris  Pandawa Lare Ganja Iras
Asal usul : Hasil Tarikan dari Pantai Selatan
Wujud Khodam : Kyai NAGA TAPA
Panjang Bilah : 17,8 cm
Khasiat : 1.Keselamatan Diri dari hal hal yang  jahat dan bersifat Gaib.
Misalnya : Santet ,Pelet , Tenung dll.
               2. Memperlancar Segala macam Usaha & Bisnis / Yang di kenal sebagai Penglarisan.
                3.Menambah  Kerezekian.
                
Konon permulaan keris terjadi di zaman pewayangan. Dalam prasejarah mengatakan para dewa membuatnya untuk para manusia bumi yang membutuhkan. Sebut saja keluarga Bharata. Baik itu dari kelompok Astina atau kalangan PANDAWA. Tentunya mereka harus melalui ritual yang cukup lama sehingga para dewa mereka kasihan dan akhirnya memberi pusaka tersebut.


Namun dalam perang Bharatayuda, keris pemberian dewa banyak yang hilang, diantaranya, Sang Yuyu Rumpung (berbentuk lurus), Sang Pasopati (berbentuk lurus), Sang Bango Dolog (berluk 3), Sang Bakung (berluk 5), Sang Balebang (berluk 11), Sang Keracan (berluk 10) dan masih banyak yang lainnya.


Keris Naga Sasra Luk 13 - Di Pinang

Toko-pusaka-keris-naga-sasra-luk-13-terjual





PUSAKA KERIS NAGA SASRA

     Pusaka Keris NAGA SASRA merupakan pusaka milik Kerajaan MAJAPAHIT , Pusaka ini terkenal sangat Ampuh dan Sakti mandraguna.Pusaka yang memiliki khodam bernama Kyai NAGA SASRA ini , juga memiliki tuah / khasiat sebagai : Pembawa berkah , Kerezekian , Kewibawaan Serta Keselamatan.
 
Sedikit Sejarah Pusaka Keris Kyai NAGA SASRA :
     Keris pusaka luk 13 ini bertahtakan warna emas. Dibuat pada jaman kerajaan Majapahit, masa pemerintahan Prabu Brawijaya V ( 1466 – 1478) . Pembuatnya adalah Pangeran Mpu Sedayu ( Mpu Supa Mendagri/ Mpu Pitrang) . Sang mpu yang telah berhasil menunaikan tugas untuk membawa kembali keris Kyai Ageng Puworo atau Kyai Sengkelat, mendapatkan penghargaan berupa sebuah tanah perdikan di daerah pesisir utara ( Gresik) yang kemudian dikenal kemudian hari sebagai daerah bernama Sedayu. Juga mendapatkan gelar kebangsawanan Pangeran yang berasal dari Sedayu ( Pangeran Sedayu) beserta seorang Puteri Keraton.

     Menurut telik sandi kerajaan Majapahit, sang Adipati Blambangan bermaksud mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan Majapahit. Maka untuk menumpas pemberontak yang mungkin sewaktu-waktu menyerbu ke Kota Raja, Sang Prabu telah menyiapkan kekuatan tandingan. Para mpu juga dikerahkan untuk membuat berbagai senjata perang yang dipimpin oleh Mpu Domas.

     Sang Prabu juga meminta kepada Mpu Supa agar dibuatkan sebilah keris bertuah yang bisa meredam 1000 macam bencana yang bisa terjadi di Majapahit. Sang mpu pun memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dia mendapatkan petunjuk berupa gambaran bentuk sebilah keris dengan dapur naga yang mempunyai 1000 sisik.
      Maka dibuatlah sebilah keris pusaka Nagasasra dengan 1000 sisik bertahtakan emas dengan luk 13. Kepala naga tidak bermahkota, luk menganggah pada gandik, tubuhnya melenggok mengikuti jumlah belahan luk, ekor naga yang ujungnya terdapat bentuk bupu terletak pada ujung keris. Keris Nagasasra yang mempunyai 1000 sisik emas dan bersabuk intan berlian ini mempunyai tuah untuk meredam seribu bencana dari berbagai penjuru wilayah kerajaan. Puas hati sang Prabu dan akhirnya keris itu juga menjadi salah satu keris piyandel / keris pusaka satu-satunya Kerajaan MAJAPAHIT.
 

© 2013. Info Mistik